Assalamu'alaikum warohmatullohi wabarokatuuuhhhh
Akhirnya setelah sekian purnama mau melanjutkan lagi blog ini sebagai ruang aman aku untuk mengekpresikan perasaan. eaaaaaaa wkwkwk
kali ini mau cerita yang berbobot lah, dah lamaaaaa banget gak nulis wkwk. Tulisan ini pnting banget buat aku dimasa depan supaya ingat gimana perjuangan bisa membentuk diri sekarang biar gak gampang nyerah. soalnya dikit-dikit suka pengen resign wakakak
Tulisan ini adalah perjalanan panjangku mengenal diri sendiri. Bukan perjalanan yang mudah, tapi perjalanan yang membentukku jadi seperti sekarang. Aku bersyukur dan gak menyesal dengan kejadian terjadi dihidupku. Gak berniat membandingkan diri sendiri dengan siapapun. Semua orang punya timeline-nya diri sendiri. Yang penting kata Allah "jangan berputus asa".
Di setiap perjalanan healing ini, aku tidak pernah benar-benar sendiri. Aku selalu melibatkan Allah dalam doa-doaku, dalam tangisku dan dalam langkah kecil untuk kembali ke diri sendiri. Karena cuma Allah yang bisa menolong, membimbing dan menyembuhkan. Walaupun aku orangnya kurang peka sama tanda-tanda Nya 😂, sering lupa, kembali mengulang kesalahan yang sama, kembali terjebak dalam pola lama, tapi Allah Maha Baik dan Maha Kasih, aku tetap diberi ujian untuk menyadarkanku. hehehe ya namanya hidup kalo gak ada ujian gak hidup namanya wkwk.
Di situlah aku belajar bahwa Allah tidak pernah meninggalkanku. Selalu ada cara-Nya untuk mengembalikanku, pelan, lembut, atau bahkan lewat luka, agar aku ingat kembali pelajaran yang harus kupahami. Agar aku terus bertumbuh.
Proses ini bukan tentang menjadi sempurna, tapi tentang selalu kembali. Kembali pada Allah, kembali pada diriku, dan kembali pada jalan yang sedang membentukku. Azeeekkkk
Baiklah, langsung saja
Sejak kecil hingga dewasa, aku terbiasa memendam perasaan. Ada keyakinan yang terus kupegang:
“harus kuat, gak boleh nangis. Nangis itu hanya untuk orang yang lemah”
Sedih, takut, marah, bahkan senang…semuanya kutekan. Yang penting, aku harus terlihat baik-baik saja. Aku harus happy. Personal branding itu perempuan yang kuat. Hingga akhirnya....
2010
Aku terkena autoimun. Tapi bahkan saat sakit, aku tetap menahan. Tidak mengeluh. Tidak sering menangis. Seolah-olah rasa sakit itu bukan sesuatu yang perlu didengarkan. Aku cuma menangis kalau saat sakit aku diremehkan, seperti "ah gitu doang sakitnya", "kok gak keliatan kalo sakit". Sakit tapi gak berdarah. wkwkwk Nah bisa baca blog ku soal sakit autoimunku disini 😂😂 wakakak
2012
Aku mulai terpuruk ditahun-tahun ini. Merasa tidak punya harga diri sama sekali. Aku terlalu sibuk menyenangkan orang lain, sampai lupa… bahwa diriku sendiri juga butuh diperhatikan. Tubuhku akhirnya menyerah. Autoimunku semakin parah, hingga aku harus berhenti dari semuanya. Habis lulus kuliah belum bisa bekerja. Belum lagi pandangan orang lain soal sakit ini, jadi makin stress. Kayak gak berguna banget diri ini, gak bisa ngapa-ngapain bahkan untuk membantu orang tua nyuci piring aja susah. Bangkit dari kasur ke dapur aja berat. Bener-bener tubuh rapuh banget.
2017
Kondisiku mulai membaik. Aku mulai melihat keterbatasanku. Sebelumnya sangat rajin menjaga kesehatan, menjaga pola makan dengan baik, gak sembarangan makan. Menjaga hubungan baik dengan orang lain. Mulai banyak aktivitas rohani. Sibuk bangetlah pokoknya. Tapi saat itu…aku masih ngggak mau terlihat lemah. Bahkan di hadapan diriku sendiri. Aku belum sadar, bahwa tubuhku selama ini sedang berbicara tentang emosi yang terlalu lama kupendam. Belum sadar nih, saat ini belum ada ketertarikan tentang hal-hal berbau emosional. Pikiranku masih sempit. Hal-hal berat seperti emosional itu belum nyampe di aku, hanya mencari kenyamanan saja, belum berani menyelam terlalu dalam ke diri sendiri.
2019
Perjalanan healingku benar-benar dimulai. Aku mulai merasa lelah… bukan secara fisik, tapi emosional. Mulai kehilangan minat satu persatu. Diluar masih keliatan ceria, tapi sesampainya dirumah, rasanya hampa seperti ada sesuatu yang harus aku temukan tapi masih bingung apa. Sampai tersadarkan bahwa selama ini aku hadir untuk semua orang, tapi tidak pernah benar-benar hadir untuk diriku sendiri. Aku mulai sadar: aku adalah people pleaser. Aku tidak punya batas. Aku menerima semua perlakuan, tanpa pernah bertanya: “ini baik untukku atau tidak?” Di titik itu, aku banyak berdoa dan perlahan, Allah memperlihatkan luka-luka lamaku: luka batin, luka masa kecil, luka yang selama ini aku abaikan. Dan untuk pertama kalinya, aku membiarkan diriku menangis. Hampir sering banget menangis. Yang tadinya tertutup gak pernah curhat ke siapapun jadi mulai terbuka ke satu teman yang dipercaya. Disini masih proses mengenal sebenanrnya apa yang kurasakan. Tapi saat itu proses yang kujalani adalah membiarkan emosi itu keluar dulu, untuk segala jawaban atas banyak pertanyaan tidak harus kuketahui dulu.
2020
Aku mulai menerima satu hal penting: “aku tidak harus selalu kuat.”, “aku boleh menangis.”. Selama beberapa tahun, aku fokus ke dalam diriku. Mengurai satu per satu luka: luka pengabaian, luka dari orang tua, luka bullying, dan lainnya. Pelajaran yang aku peroleh disini adalah Aku tidak harus mnejadi sempurna. Allah bahkan tidak memintaku sempurna, aku boleh menangis dan mengakui bahwa aku lemah. Aku butuh bantuan, aku layak didengar, dan aku juga berharga. Aku juga sudah merasa boleh kok mengungkapkan kebutuhanku. Aku tidak malu lagi mengakui kalau aku memiliki luka, dan pernah terluka. Dan itu gapapa banget, tanda bahwa aku adalah manusia. Disinilah mulai mempelajari health mental dan hal-hal berbau psikologi, karena ingin memahami diri sendiri, wkwkkw karena terlalu banyak kebingungan haha.
2023
Untuk pertama kalinya…aku merasakan sesuatu yang berbeda:Aku mulai jatuh cinta pada diriku sendiri. Bener2 kayak love banget sama diri sendiri. Aku mulai merasakan semangat hidup lagi. Aku mulai memeluk inner child-ku, bagian diriku yang dulu kesepian dan ketakutan. Aku mulai berani. Dan perlahan… tidak lagi takut kehilangan. Sudut pandangku mulai luas. Tidak lagi berpikir bahwa yang terjadi dikehidupanku karena aku tidak baik, kurang berharga atau tidak layak bahagia. Tapi justru itu menjadikanku semakin dewasa, memiliki empati dan bisa menyayangi orang lain tanpa kehilangan diri sendiri. Belajar memaafkan diri sendiri, yang tentunya banyak banget salahnya. Saat itu nilai yang kupegang adalah "kalau belum bisa menyayangi diri sendiri, memaafkan diri sendiri bagaimana bisa menyayangi dan menerima orang lain dengan utuh?". Aku mencoba untuk menjadi stabil, maka aku bisa hadir stabil untuk siapapun dalam hubungan apapun tanpa mengesampingkan kebutuhan ku sendiri.
2024
Aku belajar mengenali emosi. Menamai. Memproses. Tidak lagi lari atau menghindar dari ketidaknyamanan perasaan. Berani melihat diri sendiri lebih dalam, lebih reflektif. Kalau salah, aku akan langsung memperbaikinya. Berusaha untuk tidak terlalu keras dengan diri sendiri. Karena aku terbiasa menyalahkan diri sendiri terlalu keras padahal keadaanya bisa diperbaiki. Aku juga masih memaafkan masa lalu, dan diriku sendiri. Mulai bisa menikmati apapun yang terjadi. Mulai sering meromantisasi kehidupan wkwkkw, apapun dirayakan sebagai bentuk menghargai diri sendiri. hahaha. Gak tau suka banget manjain diri sendiri. 😗
2025
Perjalanannya belum selesai. Aku masih sering ter-trigger, terutama rasa cemas yang masih suka muncul. Tapi sekarang aku tahu, itu bukan kemunduran. Itu tanda masih ada yang perlu disembuhkan. Kadang luka gak benar-benar sembuh, ada yang hanya tertutup saja, jadi kesenggol dikit dia terbuka lagi. Ini karena prosesku masih berjalan. Mungkin saking banyaknya luka yang dipendam ya wkwkwk, dulu dilupakan aja gak diproses.
Bayangkan saja, misal ada luka ditangan, lukanya masih basah tapi kamu gak kasih obat, hanya ditutup saja. Suatu waktu kamu beraktivitas, dan kesenggol, perbannya terbuka dan luka yang basah itu akhirnya terbuka lagi, rasanya jadi lebih sakit bukan? Tapi kalau luka itu kamu kasih obat, perih memang rasanya kadang bikin kita nangis karena perihh tapi harus kita rasain kan? Kita biarin sampe obatnya meresap diluka itu walau sakit dan perih, tapi lama kelaman dia akan kering dan pelan pelan sembuh.
Seperti itu juga luka batin atau trauma. Kalau hanya ditahan, ditekan atau dimatikan rasanya tidak benar-benar diproses,. Maka dia hanya tersimpan saja, suatu waktu ada trigger atau kejadian yang mirip, dia akan muncul dengan rasa yang mirip seperti kejadian aslinya. Maka di tahun ini setiap ada trigger muncul, aku selalu memprosesnya sampai benar-benar selesai. Gak enak memang rasanya, karena kalau ada rasa sedih, kesal atau lainnya harus diakui dan dirasain, dan itu memang gak enak, perihhh tapi setelah itu yakinlah, akan lebih plong, gak ada emosi yang disimpan lagi, gak ada dendam, menerima dengan lapang dada.
Misalnya di tahun ini aku pernah merasakan cemburu, aku akan mengakuinya "oh benar aku cemburu karena tadi...." lalu aku rasakan cemburu itu sampai dia mereda lagi, dan benar-benar aku rasakan. Setelah itu aku hanya tersenyum saja ketika cemburu, aku memaknainya dengan arti bahwa aku hanya memaknai hubungan ini dengan tulus makanya aku bisa merasakan jealous. wkwkwkwk bukan kayak "ah gini doang kok aku jealous sih, gak boleh ah kek anak kecil". nah ini malah nyimpen emosi lagi wkwkkw.
Dan aku belajar mengekspresikan emosi dengan cara yang lebih sehat. Mulai belajar menyampaiakn perasaan tanpa menyudutkan orang lain, walau kadang mungkin bahasaku masih belum tepat, tapi aku berusaha banget belajar menyampaikan perasaanku dengan baik. Aku ingin belajar komunikasi yang dewasa.
2026
Hari ini, aku mulai bangga pada diriku sendiri. Semua luka di masa lalu…tidak membuatku menjadi pahit, dingin, atau tertutup. Justru sebaliknya. Aku menjadi lebih terbuka, lebih penuh empati, dan tetap bisa menyayangi orang lain tanpa kehilangan diriku sendiri. Aku tetap berusaha konsisten dan bersyukur.
Dan hari ini, aku bisa berkata: aku bersyukur atas semua luka itu. karena dari situlah aku dibentuk menjadi diriku yang sekarang.
Tidak ada yang salah dengan belajar, tidak ada yang telat berapapun usiamu. Belajar itu seumur hidup, karena hidup ini naik turun. Kadang lagi baik, kadang lagi buruk. Kadang kita bener, kadang kita berbuat salah. Dan Allah selalu ngingatin, berbuat salah tidak apa-apa selama kita kembali memohon ampun padaNya, dan berusaha memperbaikinya. Aku selalu berusaha menjadi diri sendiri yang disukai dan diridhai Allah, berbuat baik dan menyayangi orang lain, juga menjadi berguna.
Setiap orang pasti memiliki perjalanan hidupnya masing-masing, dan inilah perjalanan hidupku. Kedepannya masih akan ada ujian hidup lagi yang harus dilewati. Jadi tetaplah semangattt..
No comments:
Post a Comment